Home >> Angkul Angkul Batu Bata >> Pintu Angkul Angkul Batu Bata Dan Pembuatannya

Pintu Angkul Angkul Batu Bata Dan Pembuatannya

Rumah tradisional Bali memang nampak unik dan khas dengan keberadaan pintu angkul angkul batu bata di bagian depannya. Keberadaannya memang sangat mencerminkan arsitektur Bali yang bernilai estetika yang tinggi dan selalu dapat menarik perhatian bagi mata yang melihatnya.

Saat ini, angkul-angkul ini tidak hanya ditemukan dengan bahan material dari batu bata saja. Melainkan, ada juga ada yang menggunakan bahan batu paras dan beton cetakan.

Hal ini dikarenakan bahan–bahan tersebut kini lebih mudah dibandingkan jaman dulu yang hanya didominasi oleh bahan-bahan batu bata dan tanah saja.

Keberadaan Pintu Angkul Angkul Batu Bata

Angkul Angkul Rumah Bali - sumber: pinterest.com

Bila dilihat sekilas mata, angkul angkul ini memang jauh tidak berbeda dengan bangunan pintu masuk yang sering dijumpai pada rumah-rumah lainnya. Namun, keberadaan angkul-angkul ini sangat penting bagi masyarakat Bali.

Angkul-angkul dengan daun pintu menyimbolkan sebuah mulut dari rumah itu sendiri. Dimana segala hal bersifat sekala maupun niskala (tak kasat mata) bisa saja masuk saat pintu terbuka, dan mencegah segala hal masuk saat pintu tertutup.

Di masing-masing sisinya, terhubung dengan tembok penyengker (pembatas) yang mengelilingi bangunan rumah. Tembok ini berfungsi sebagai pelindung rumah dari kekuatan-kekuatan negatif dari luar.

Sementara di bagian belakang angkul-angkul, juga terdapat sebidang tembok pembatas antara angkul-angkul dengan pekarangan rumah yang disebut Aling-Aling.

Tembok ini dibangun sebagai privasi pemilik rumah agar apa yang ada di dalam rumah tidak terlihat langsung oleh orang dari luar rumah khususnya saat pintu keadaan terbuka.

Pembuatan Wajib Mengikuti Pedoman Asta Kosala Kosali

Angkul Angkul Rumah Bali - sumber: pinterest.com

Dalam pembuatannya, angkul-angkul tentunya tidak dapat dibuat secara sembarangan. Masyarakat Bali mempunyai aturan dan perhitungan khusus di dalam pembuatan angkul-angkul.

Aturan dan perhitungan ini diambil dari Lontar Asta Kosala Kosali yang sudah diwariskan oleh tetua di Bali sejak jaman dulu. Lontar ini memuat tentang pedoman arsitektur tradisional Bali.

Selain itu, proses pembangunan pun disarankan untuk selalu dilakukan pada hari-hari baik (Dewasa Ayu). Masyarakat Bali meminta petunjuk pada orang suci di dalam menentukan perhitungan Dewasa Ayu ini.